Banda Aceh _ Wacana kantin sekolah dalam program makanan bergizi gratis ( MBG ) menjadi kekeliruan dalam pelaksanaan program tersebut
Ketua yayasan Hidup Sehat Bergizi, Taufiq Hidayat menilai pelibatan kantin sekolah berpotensi menimbulkan masalah baru terkait standar gizi, keamanan pangan, pengawasan anggaran hingga beban kerja pihak sekolah.
Menurut Taufiq juga menyoroti secara tajam sebuah kekeliruan orientasi jika sekolah di posisikan sebagai unit produksi makanan. Secara tegas saya mengingatkan bahwa Marwah tenaga pendidikan adalah mendidik anak bangsa, bukan di alih fungsikan menjadi pengurus dapur makan bergizi gratis ( MBG )
Saya menjelaskan bahwa guru sekolah tugasnya mendidik, bukan menjadi juru masak ( Chef ) jangan pernah menggeser essensi institusi pendidikan menjadi dapur KOMERSIAL yang mencederai konsentrasi belajar para siswa.
Pada prinsipnya saya sebagai ketua yayasan sangat mendukung evaluasi dan perbaikan. Kalau ada sistem yang bisa membuat program makan bergizi gratis ( MBG ) ini menjadi lebih baik tentu sangat membantu. Tetapi jangan sampai dengan berubahnya sistem malah membuat standar yang sudah ada menjadi merosot.
Dengan demikian, menurut saya dari perspektif tata kelola dan kemaslahatan, memindahkan dapur ke sekolah saya nilai sebagai langkah mundur yang kontraproduktif. Dapur SPPG terbukti memiliki standar pengawas berlapis dari badan gizi Nasional ( BGN ), standar higienistas ahli gizi, serta siklus ekonomi ekonomi kerakyatan yang melibatkan UMKM lokal. Mengalihkan fungsi ini ke sekolah tidak hanya memecahkan focus pendidikan, tetapi juga beresiko merusak rantai pasok ekonomi yang selama ini telah menjadi fondasi kemandirian ummat di daerah.